Bermain adalah dunia utama anak-anak. Dalam benak mereka, dunia adalah untuk bermain sambil belajar.Tak bisa dibayangkan jika anak-anak kehilangan kedua aktivitas itu: tidak bisa bermain sebagaimana anak-anak lainnya. Ketika hendak bermain orang tua acap kali melarang, bahkan untuk keluar dari tenda, karena khawatir akan keselamatan mereka. Inilah yang dialami oleh anak-anak di daerah bencana, terutama di pengungsian. Jika tidak ada penanganan serius dikhawatirkan mereka akan mengalami hambatan perkembangan psikologis.
Seperti yang dialami teman-teman kecil saya yang sedang mengalami bencana erupsi Merapi, Pia dan Atik... ketika saya tanya bagaimana rasanya berada di pengungsian, mereka menjawab dengan kalimat singkat. MEMBOSANKAN......
Usia anak-anak merupakan masa keemasan, periode paling menentukan. Ketertekanan jiwa menjadi agenda besar yang mesti segera ditangani, dengan aneka ragam kegiatan konseling komunikatif dan suportif. Penyuluhan, terapi psikologis, dan bimbingan konseling yang terpusat pada anak harus diprioritaskan untuk mengembalikan agar mereka sehat secara psikologis, ceria di dunia bermain mereka. Optimisme yang tertekan ke titik ke alam bawah sadar pun perlahan tapi pasti akan terangkat ke permukaan. Program penanggulangan bencana sudah saatnya dirancang sedemikan rupa, memberi perhatian besar pada psikologi anak. Saat bencana datang dan mereka menjadi kelompok yang paling rentan, selain lansia, sepatutnya kita memiliki grand design baku penanganan. Anak-anak adalah masa depan, sehingga kita jangan sampai salah arah menangani. Selama ini desain baku hanya berkutat pada penanganan fisik, meliputi upaya evakuasi, tanggap darurat, ketercukupan logistik, sarana-prasarana, dan alokasi dana.
Upaya pembenahan dan pemompaan semangat hidup kepada anak-anak di daerah bencana merupakan tahap awal penyembuhan “luka memar“ psikologis yang diderita.Komunikasi dialogis yang suportif, dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial bakal berperanbesardalamprosesini.Denganpendekatan itulah mereka diajak menemukan kembali “ruh“ hidup yang mengendap dan bersembunyi di balik ketidaksadaran represif. Juga mengembalikan anak-anak pada posisinya dari kemungkinan keterpurukan jiwa.
sebagian artikel ini saya ambil dari sini.
Tampilkan postingan dengan label bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bencana. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 November 2010
Rabu, 03 November 2010
Kisah Dua Umar dan Gempa Bumi
Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, "Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!"
Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!"
Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.
Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.
Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, "Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, 'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''
Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."
"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15). Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."
"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."
Jika saja kedua Umar ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan "teguran" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras, inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu. Wallahu a'lam.
Sumber: Ahmad Syahirul Alim Lc (republika)
Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!"
Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.
Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.
Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, "Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, 'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''
Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."
"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15). Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."
"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."
Jika saja kedua Umar ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan "teguran" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras, inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu. Wallahu a'lam.
Sumber: Ahmad Syahirul Alim Lc (republika)
Minggu, 31 Oktober 2010
Merapi Itu Cantik
Aku sedang berjalan menuju gedung rektorat untuk mengikuti perkuliahan elektronikal dakwah yang diampu oleh Mas Adam. Sampai di lantai dua saya melihat banyak sekali orang-orang yang sedang memandang ke arah Merapi. Setelah saya ikut melihat ternyata Merapi sedang menyemburkan awan panas yang lebih familiar disebut dengan wedhus gembel. Awan panas itu terlihat mengarah ke Tenggara. Bahkan sampai sekarang masih terlihat Merapi mengeluarkan awan panas itu.
Pemandangan yang sangat cantik memang. Terlihat dari jauh awan yang mengepul menelusuri lereng Merapi memanjakan pandangan. Merapi yang awalnya terlihat biru, kemudian diselimuti awan putih menjadi tak terlihat karena tertutup awan putih yang begitu tebal. Pemandangan yang mungkin tak kan terulang untuk kedua kalinya. Seperti kemaren waktu hujan abu vulkanik Merapi menuju ke arah Yogyakarta. Pagi harinya waktu aku bangun tidur untuk persiapan sholat subuh aku kaget karena pemandngan disekitar hanya berwarna putih saja. Untungnya siang harinya ada hujan, jadi pemandangan yang awalnya hanya terlihat putih seperti antartika langsung berubah menjadi berwarna lagi.
Merapi menjadi salah satu pembicaraan yang sedang hangat akhir-akhir ini. Soal erupsi Merapi, meninggalnya Mbah Maridjan, awan panas, pengungsian, dan lain-lain menjadi isu yang sepertinya tak ingin dilewatkan. Bahkan merapi menjadi lokasi wisata bencana yang dijadikan tujuan oleh para wisatawan, padahal orang-orang yang mengalami bencana begitu nelangsa mengalaminya. Bahkan mereka sampai bosan berada di lokasi pengungsian karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. kalau biasanya mereka beraktivitas, di pengungsian mereka hanya menunggu kepastian kapan Merapi akan berhenti.
Aku hanya bisa berdoa semoga Merapi cepat selesai dan yang mengalami bencana diberi ketabahan, kesabaran.
Pemandangan yang sangat cantik memang. Terlihat dari jauh awan yang mengepul menelusuri lereng Merapi memanjakan pandangan. Merapi yang awalnya terlihat biru, kemudian diselimuti awan putih menjadi tak terlihat karena tertutup awan putih yang begitu tebal. Pemandangan yang mungkin tak kan terulang untuk kedua kalinya. Seperti kemaren waktu hujan abu vulkanik Merapi menuju ke arah Yogyakarta. Pagi harinya waktu aku bangun tidur untuk persiapan sholat subuh aku kaget karena pemandngan disekitar hanya berwarna putih saja. Untungnya siang harinya ada hujan, jadi pemandangan yang awalnya hanya terlihat putih seperti antartika langsung berubah menjadi berwarna lagi.
Merapi menjadi salah satu pembicaraan yang sedang hangat akhir-akhir ini. Soal erupsi Merapi, meninggalnya Mbah Maridjan, awan panas, pengungsian, dan lain-lain menjadi isu yang sepertinya tak ingin dilewatkan. Bahkan merapi menjadi lokasi wisata bencana yang dijadikan tujuan oleh para wisatawan, padahal orang-orang yang mengalami bencana begitu nelangsa mengalaminya. Bahkan mereka sampai bosan berada di lokasi pengungsian karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. kalau biasanya mereka beraktivitas, di pengungsian mereka hanya menunggu kepastian kapan Merapi akan berhenti.
Aku hanya bisa berdoa semoga Merapi cepat selesai dan yang mengalami bencana diberi ketabahan, kesabaran.
Langganan:
Postingan (Atom)