Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Desember 2010

Mengumpat

Aku sepertinya sudah menjadi bukan diriku
Atau seperti orang yang di jalan-jalan itu
yang bebas berkata apa saja
mengabsen binatang di kebun bianatang
atau menyebut buah-buahan seperti asem atau lainnya

Tiba-tiba saja aku gundah
aku ingin mengumpat
aku g mau seperti jadi diriku sendiri saja
yang hanya manut dengan keadaan
dipaksa untuk mengikuti orang

Hey kamu.....
enak sekali mengatur diriku
Apa kau tak tahu kalau aku harus memikirkan hal lain
aarghh....

Sadarlah choy......

Kamis, 25 November 2010

Mengkotak-kotakkan Islam

Islam dikotak-kotakkan atas dasar ideologi-ideologi yang hanya berdasarkan pendapat-pendapat saja. Dengan berpendapat bahwa dalil yang digunakan adalah yang paling sah. Mengapa umat islam tak bisa bersatu. Bisa saja karena ideologi yang digenggam itulah yang akhirnya lupa bahwa Al Qur'an adalah pegangan yang harus dipegang erat.

Jangan sampai umat Islam terkotak-kotakkan hanya karena ideologi belaka. Karena Islam itu saudara.

Selasa, 23 November 2010

Saya Bangga Jadi Orang GILA

Saya dulu beranggapan bahwa orang yang gila itu karena terlalu banyak beban yang ditanggung olehnya. Karena banyaknya beban tersebut akhirnya dia tidak kuasa untuk mengangkat dan stress, depresi, dan akhirnya gila. Mungkin alasan ini ada benarnya, tapi setelah saya pikir-pikir ternyata setelah orang menjadi gila itu malah tidak memiliki beban apa-apa. Hidupnya tenang tanpa gangguan, tak usah memikirkan apa-apa, cuek, seperti orang yang sedang MERDEKA. Mereka bisa hidup dimana saja dn kapan saja.

Saya sering menemui orang-orang gila yang hidupnya merdeka. Mereka bisa tidur di pinggir jalan, makan apa saja, bahkan tak perlu memikirkan untuk mandi. Karena mungkin bagi mereka hidup itu adalah “semau gue”. Tak perlu memikirkan orang lain, tak perlu resah gelisah bahwa hak dia itu juga dibatasi oleh hak-hak orang lain. Mereka bisa melakukan apa saja tanpa merasa mengganggu orang lain disekitarnya. Bahkan orang yang waras malah enggan dan takut, benar-benar semakin merdeka.

Tapi setelah saya pikir-pikir kembali ternyata lebih enak menjadi orang waras. Karena orang waras memiliki RASA, satu hal yang mungkin tidak dimiliki oleh orang gila. Rasa malu, rasa tanggung jawab, rasa peduli, dan rasa-rasa yang lain yang membuat seseorang merasa dirinya waras. Dengan RASA itulah akhirnya seseorang bisa hidup dengan orang lain dengan baik, tidak seperti orang gila. Tapi dengan hidup berdampingan dengan orang lain, orang waras juga MERDEKA.

Saya akhirnya berpikir ulang untuk memutuskan menjadi orang gila atau menjadi orang waras karena ternyata keduanya sama-sama MERDEKA. Dan akhirnya keputusan yang saya ambil adalah menjadi ORANG WARAS YANG GILA. Semoga tidak salah dalam memilih, atau tidak memilih?

Minggu, 21 November 2010

Semua ini Berawal dari mimpi

Suatu hari, 1998

“Pak,aku besok kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang ya?”

Dengan polosnya aku mengungkapkan keinginanku kepada bapakku yang miskin. Waktu itu aku masih kelas dua di MTs N Jeketro. Salah satu MTs Negeri yang ada di Kabupatenku, Grobogan. Aku bisa memiliki mimpi untukkuliah di fakultas tersebut karena salah satu guruku di kelas menyarankan siswanya untuk memiliki cita-cita yang tinggi, salah satunya adalah kuliah, dan aku lupa mengapa aku bisa memutuskan untuk bercita-cita kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Kalau tidak salah kakakku dulu menginginkan aku menjadi seperti Amin Rais, karena kalau tidak salah waktu itu Amin Rais menjadi ketua PP Muhammadiyah. Beliau pandai sekaligus ulet dan pandai berpidato.

suatu hari, Nopember 2010

Aku sudah selesai melaksanakan sholat di masjid Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta , sholat dhuhur. Waktu itu aku ikut menyolatkan jenazah ibu Maryani yang meninggal dunia, beliau adalah salah satu pengungsi erupsi Merapi di UMY. Kemudian aku berjalan ke Fakultas Agama Islam, seperti biasa setelah sholat dhuhur, aku memanfaatkan internet corner di TU untuk mengisi waktu menunggu kuliah jam 13.00. Aku kuliah di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KPI FAI UMY).

22 Oktober 2008

Kami tak percaya melihat gedung kembar dari ring road walaupun sebelumnya di gambar yang di browsing kakakku lewat google memperlihatkan gedung yang sama. Akhirnya kami menanyakan kepada kondektur bus umum yang kami tumpangi dari Semarang. “Ya, itu UMY” singkat katanya. Dengan perasaan yang tak pernah bisa terungkapkan dengan kata-kata aku mulai memasuki halaman kampus, dengan tas punggung usang milik adikku. “klambi wae ora nduwe, kok kuliah”. Kata-kata yang masih aku ingat waktu kakakku pulang meninggalkan aku sendirian di Yogyakarta.

Antara 2004 s.d. 2008

Lulus dari SMA Muhammadiyah Gubug dengan predikat lumayan, waktu itu aku mendapatkan salaman dari kepala sekolah langsung karena yang lain hanya mendapatkan salaman itu dari wali kelas. Tapi setelah itu, aku tak tahu harus kemana. Kerja? Aku mau kerja apa, aku tak pernah kerja. Kuliah? Orang miskin seperti saya bisa apa? Aku anak keempat dari sebelas bersaudara, orang tuaku miskin. Mungkin ada yang pernah tahu Iklan Layanan Masyarakat yang sering muncul di TVRI waktu dulu. “Aku ingin sekali seperti mereka, tapi bagaimana mungkin, Membaca saja aku tak mampu”

Ramadhan 1429 H/2008

Bukankah Jurusan KPI UMY itu juga sama saja dengan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang? Hampir lah.... Aku sujud syukur karena doaku, harapanku, MIMPI ku 10 tahun yang lalu dikabulkan oleh Allah SWT. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Jumat, 05 November 2010

Jogja sepi

putih terlihat
angin yang semilir membelai dedaunan
mobil-mobil terparkir rapi di halaman
tak banyak juga orang berjalan

Jogja seperti kota mati
sunyi, sepi.....

aku berhadapan dengan monitor dan memandang ke jendela
seperti tak ada yang lain