Minggu, 21 November 2010
Semua ini Berawal dari mimpi
“Pak,aku besok kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang ya?”
Dengan polosnya aku mengungkapkan keinginanku kepada bapakku yang miskin. Waktu itu aku masih kelas dua di MTs N Jeketro. Salah satu MTs Negeri yang ada di Kabupatenku, Grobogan. Aku bisa memiliki mimpi untukkuliah di fakultas tersebut karena salah satu guruku di kelas menyarankan siswanya untuk memiliki cita-cita yang tinggi, salah satunya adalah kuliah, dan aku lupa mengapa aku bisa memutuskan untuk bercita-cita kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Kalau tidak salah kakakku dulu menginginkan aku menjadi seperti Amin Rais, karena kalau tidak salah waktu itu Amin Rais menjadi ketua PP Muhammadiyah. Beliau pandai sekaligus ulet dan pandai berpidato.
suatu hari, Nopember 2010
Aku sudah selesai melaksanakan sholat di masjid Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta , sholat dhuhur. Waktu itu aku ikut menyolatkan jenazah ibu Maryani yang meninggal dunia, beliau adalah salah satu pengungsi erupsi Merapi di UMY. Kemudian aku berjalan ke Fakultas Agama Islam, seperti biasa setelah sholat dhuhur, aku memanfaatkan internet corner di TU untuk mengisi waktu menunggu kuliah jam 13.00. Aku kuliah di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KPI FAI UMY).
22 Oktober 2008
Kami tak percaya melihat gedung kembar dari ring road walaupun sebelumnya di gambar yang di browsing kakakku lewat google memperlihatkan gedung yang sama. Akhirnya kami menanyakan kepada kondektur bus umum yang kami tumpangi dari Semarang. “Ya, itu UMY” singkat katanya. Dengan perasaan yang tak pernah bisa terungkapkan dengan kata-kata aku mulai memasuki halaman kampus, dengan tas punggung usang milik adikku. “klambi wae ora nduwe, kok kuliah”. Kata-kata yang masih aku ingat waktu kakakku pulang meninggalkan aku sendirian di Yogyakarta.
Antara 2004 s.d. 2008
Lulus dari SMA Muhammadiyah Gubug dengan predikat lumayan, waktu itu aku mendapatkan salaman dari kepala sekolah langsung karena yang lain hanya mendapatkan salaman itu dari wali kelas. Tapi setelah itu, aku tak tahu harus kemana. Kerja? Aku mau kerja apa, aku tak pernah kerja. Kuliah? Orang miskin seperti saya bisa apa? Aku anak keempat dari sebelas bersaudara, orang tuaku miskin. Mungkin ada yang pernah tahu Iklan Layanan Masyarakat yang sering muncul di TVRI waktu dulu. “Aku ingin sekali seperti mereka, tapi bagaimana mungkin, Membaca saja aku tak mampu”
Ramadhan 1429 H/2008
Bukankah Jurusan KPI UMY itu juga sama saja dengan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang? Hampir lah.... Aku sujud syukur karena doaku, harapanku, MIMPI ku 10 tahun yang lalu dikabulkan oleh Allah SWT. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Selasa, 02 November 2010
Nyuri kok Galon
"Kang, pas neng nggone pakde mau bengi toh galone neng omah dicolong wong"
"lha nyolong kok galon? maling kok lucu, padahal kan neng omah ono mesin jahit, sanyo to?"
("Mas, waktu serumah ke rumah pakde semalam galon yang dirumah dicuri sama orang"
"Lha... nyuri kok galon? pencuri kok lucu to, padahal di rumah kan ada mesin jahit, pompa air to?")
Aneh memang, pencuri yang satu ini mengambil galon dari rumahku. kabar yang aku terima dari adekku ini otomatis membuat aku tertawa. Rumah yang tak pernah ada penjaganya (kosong) dan tak pernah dikunci, kok dicuri galonnya. hmmm.. padahal kan ada dispensernya, mesin jahit, pompa air yang seharusnya harganya jauh lebih mahal kalau dijual jika hanya dibandingkan dengan galon air... bahkan pencuri ini rela menuangkan airnya terlebih dahulu... duh duh...
bapakku juga aneh, sekeluarga juga aneh.. punya rumah kok ditinggal g pernah dikunci..
Senin, 01 November 2010
Antara Penuntut Ilmu dan Pecandu Internet
Seorang penuntut ilmu, sangat bersemangat untuk meraih suatu kemanfaatan, bermajelis dengan para pemilik ilmu, pemilik keutamaan dan sifat wara’.
Seorang penuntut ilmu, senantiasa membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat, menjaga waktunya (dari hal-hal yang tidak berguna), hingga engkau tidak melihatnya kecuali selalu mengambil manfaat, berpaling dari perkara yang sia-sia dan menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat saja.
Seorang penuntut ilmu, apabila dia berbicara maka dia memberi manfaat dengan perkataannya, jika dia menulis maka dia memberi manfaat dengan tulisannya, hingga orang yang bermajelis dengannya tidak akan pernah kosong dari suatu manfaat.
Seorang penuntut ilmu, menghargai kemulian ilmu dan kedudukan ulama, dia mengambil ilmu dari para ulama, menhormati dan mendoakan mereka serta memohon rahmat untuk (ulama) yang sudah meninggal.
Seorang penuntut ilmu, membenci ghibah dan membenci orang yang suka berghibah, dia juga tidak ridho apabila aib seseorang dibicarakan di depannya. Engkau lihat seorang penuntut ilmu itu bersikap tawadhu’, tidak mengangkat dirinya melebihi kedudukannya yang sebenarnya, tidak berbangga dengan sesuatu yang tidak dia miliki, tidak tertipu dengan pujian dan sanjungan, tidak meninginkan ketenaran, tidak pula kedudukan di tengah-tengah manusia, karena dia tahu bahwa yang mampu mengangkat dan merendahkan seseorang hanyalah Allah Ta’ala, bukan seorang manusia.
Seorang penuntut ilmu, senantiasa berdakwah dan mensihati kaum muslimin, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar sesuai dengan kaidah-kaidah syari’ah dan tatanan masyarakat. Engkau lihat seorang penuntut ilmu itu sangat bersemangat dalam menyatukan ummat, merekatkan hati-hati mereka dan membenci perpecahan antara Ahlus Sunnah, karena dia mengetahui bahwa perpecahan itu selalu bersama kebid’ahan dan persatuan selalu menyertai sunnah. Oleh karenanya dikatakan, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah (persatuan)” dan “Ahlus Bid’ah wal Furqoh (perpecahan)”.
Demikian pula engkau lihat seorang penuntut ilmu selalu menjaga lisannya, dia tidak mengomentari semua gosip dan isu yang tersebar di masyarakat, karena dia tahu bahwa semua perkataan dan perbuatannya akan dihisab.
Seorang penuntut ilmu, memperhatikan maslahat pada setiap perkataan dan perbuatannya, dia tidak membuka pintu (mencontohkan) keburukan bagi manusia, tidak membicarakan perkara yang batil, tidak sibuk dengan permasalahan yang tidak dipahaminya, dia tidak masuk dalam suatu pembicaraan kecuali berdasar ilmu, sehingga dia tahu penyebab masalah yang ada dan apa solusinya. Benar-benar dia telah menyiapkan jawaban di hadapan Allah Ta’ala kelak (atas semua perkataan dan perbuatannya).
Inilah sebagian sifat penuntut ilmu, semoga Allah Ta’ala menganugarahkan sifat-sifat tersebut kepada kita.
Adapun pecandu internet, keadaannya terbalik, sebagaimana telah dimaklumi dan disaksikan.
Pecandu internet akhlaqnya rendah, suka melanggar kehormatan, menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat, menyerang siapa saja tanpa memperdulikan kemuliaan ilmu, umur, kehormatan dan keutamaan. Dia juga berlagak ‘alim, mencari-cari kekurangan dan kesalahan orang lain, semua itu adalah buah dari mencandu internet secara berlebihan. Hari dan tahun yang dia lalui kosong tak berarti, hingga akhirnya dia tidak bisa tenang dan tidak membiarkan orang lain tenang.
Maka, jika engkau ingin menjadi penuntut ilmu, jalannya ada di depanmu dan telah jelas bagimu tanda-tandanya. Namun jika kamu memilih jadi pecandu internet, jalannya juga ada di depanmu, yang dipenuhi dengan kotoran dan najis, maka kotorilah dirimu sesuai kehendakmu, akan tetapi janganlah engkau membohongi manusia, sehingga engkau disangka seorang penuntut ilmu!
Diterjemahkan dari website resmi Asy-Syaikh Abu Malik Abdul Hamid Al-Juhani hafizhahullah, Imam dan Khotib Masjid Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu di Yanbu’ Al-Bahr, juga Da’i di Kementrian Wakaf, Dakwah dan Bimbingan KSA, dari artikel yang berjudul:
الفرق بين طالب العلم , وطالب الأنترنت
[1] Nasihat ini beliau tulis sebagai nasihat kepada para penuntut ilmu yang berdakwah via internet, sekaligus sebagai celaan terhadap orang-orang yang suka menyebar kerusakan di internet, mengoyak persatuan Ahlus Sunnah dan membuat lari kaum muslimin dari dakwah yang penuh berkah ini
Dinukil dari: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/01/antara-penuntut-ilmu-dan-pecandu-internet/
Selasa, 13 Juli 2010
Berhentilah Berteriak
Caranya, penduduk yang kuat dan berani memanjat puncak pohon itu. Lalu, bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu, berjam-jam, selama 40 hari. Ternyata, pohon yang diteriaki itu daunnya mulai mengering, rontok, mati dan mudah ditumbangkan. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan terhadap pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.
Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.
Ingatlah bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya. Anda berteriak pada anak? Atau mungkin berteriak kepada pasangan hidup karena merasa sakit hati? Seorang guru berteriak pada anak didiknya? Seorang atasan berteriak pada bawahannya? Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka, ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk primitif. Setiap kali berteriak, kita mematikan roh orang yang kita cintai. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi, perlahan-lahan pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.
Coba kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Teriakan hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan? Nach, mengapa orang yang marah dan emosio menggunakan teriakan-teriakan, padahal jarak mereka dekat. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh.
Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak. Selain itu, mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki.
Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.
Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Akan semakin dijauhi atau akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya. Semoga bermanfaat untuk mengurangi teriakan kita semua.
artikel ini saya ambil dari sini untuk pelajaran kita bersama.
Rabu, 23 Juni 2010
Anak Penjual Bumbu Juara Pidato Nasional
’’Penampilannya bak orator cilik.
Suaranya lantang memikat banyak orang yang mendengarnya,’’ tutur Candra Puspita, guru pembimbing Alviani, kemarin.
Kesaksian Candra ini tak berlebihan.
Sebab, vokal lantang Alviani mengantarnya menjadi juara Nasional lomba pidato Bahasa Indonesia, dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional, di Hotel Oval Surabaya, 1617 Juni lalu. Anak penjual bumbu masak ini, berhasil menyisihkan peserta unggulan dari DKI, Jambi, serta tuan rumah Jawa Timur.
Salah satu juri dari UGM Yogyakarta, seperti diungkapkan Candra, sangat terkesima dengan penampilan Alviani.Sang juri berkali-kali mengacungkan jempol usai mendengar putri kedua dari pasangan Ali Said (46) dan Siti Asiah (38) itu membawakan pidato dengan runtut, sesekali seperti berdialog dengan audiens, serta tidak melebar dari tema awal.
Berapi-api Berpidato di hadapan dewan juri dari kalangan akademisi dan ahli psikologi anak asal Unibraw, UI, Unair, dan UGM itu, Alviani berapi-api menyampaikan persoalan pentingnya mengembangkan sikap kesetiakawanan dalam kehidupan sehari-hari. Tema sederhana itu sangat menarik ketika Alviani menuturkannya dalam bahasa tutur lugas.
’’Saya mengajak mereka bisa memahami tema itu dengan menggambarkan pentingnya memilih teman tanpa memandang suku, aga
ma, ras, dan golongan. Sepertinya biasa tetapi kok bisa juara ya, Mas,’’ tutur Alviani.Alviani menyusun konsep pidato tak lebih dari 30 menit dan mengemasnya dengan durasi tujuh menit. Singkat, padat, dan jelas namun membuat juri memilihnya sebagai juara. Penilaian itu sekaligus mencakup kesesuaian tema dengan isi, vokal, ekspresi, orisinalitas, hingga penggunaan gaya bahasa menyesuaikan usia.
Atas prestasinya itu, Alviani berhak mendapat hadiah Rp 10 juta dan bonus dari Dinas Pendidikan Jateng. Selebihnya, dia akan diundang Gubernur Bibit Waluyo di Wisma Perdamaian.
’’Untuk menyemangati Alviani, Kepala UPTD Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Demak HM Natsir menyewa satu bus pariwisata mendampingi hingga Surabaya,’’ kata Kasek SDN Karanganyar 1, Nur Sulistyowati.sumbernya dari sini