Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 November 2010

Semua ini Berawal dari mimpi

Suatu hari, 1998

“Pak,aku besok kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang ya?”

Dengan polosnya aku mengungkapkan keinginanku kepada bapakku yang miskin. Waktu itu aku masih kelas dua di MTs N Jeketro. Salah satu MTs Negeri yang ada di Kabupatenku, Grobogan. Aku bisa memiliki mimpi untukkuliah di fakultas tersebut karena salah satu guruku di kelas menyarankan siswanya untuk memiliki cita-cita yang tinggi, salah satunya adalah kuliah, dan aku lupa mengapa aku bisa memutuskan untuk bercita-cita kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Kalau tidak salah kakakku dulu menginginkan aku menjadi seperti Amin Rais, karena kalau tidak salah waktu itu Amin Rais menjadi ketua PP Muhammadiyah. Beliau pandai sekaligus ulet dan pandai berpidato.

suatu hari, Nopember 2010

Aku sudah selesai melaksanakan sholat di masjid Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta , sholat dhuhur. Waktu itu aku ikut menyolatkan jenazah ibu Maryani yang meninggal dunia, beliau adalah salah satu pengungsi erupsi Merapi di UMY. Kemudian aku berjalan ke Fakultas Agama Islam, seperti biasa setelah sholat dhuhur, aku memanfaatkan internet corner di TU untuk mengisi waktu menunggu kuliah jam 13.00. Aku kuliah di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KPI FAI UMY).

22 Oktober 2008

Kami tak percaya melihat gedung kembar dari ring road walaupun sebelumnya di gambar yang di browsing kakakku lewat google memperlihatkan gedung yang sama. Akhirnya kami menanyakan kepada kondektur bus umum yang kami tumpangi dari Semarang. “Ya, itu UMY” singkat katanya. Dengan perasaan yang tak pernah bisa terungkapkan dengan kata-kata aku mulai memasuki halaman kampus, dengan tas punggung usang milik adikku. “klambi wae ora nduwe, kok kuliah”. Kata-kata yang masih aku ingat waktu kakakku pulang meninggalkan aku sendirian di Yogyakarta.

Antara 2004 s.d. 2008

Lulus dari SMA Muhammadiyah Gubug dengan predikat lumayan, waktu itu aku mendapatkan salaman dari kepala sekolah langsung karena yang lain hanya mendapatkan salaman itu dari wali kelas. Tapi setelah itu, aku tak tahu harus kemana. Kerja? Aku mau kerja apa, aku tak pernah kerja. Kuliah? Orang miskin seperti saya bisa apa? Aku anak keempat dari sebelas bersaudara, orang tuaku miskin. Mungkin ada yang pernah tahu Iklan Layanan Masyarakat yang sering muncul di TVRI waktu dulu. “Aku ingin sekali seperti mereka, tapi bagaimana mungkin, Membaca saja aku tak mampu”

Ramadhan 1429 H/2008

Bukankah Jurusan KPI UMY itu juga sama saja dengan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang? Hampir lah.... Aku sujud syukur karena doaku, harapanku, MIMPI ku 10 tahun yang lalu dikabulkan oleh Allah SWT. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Senin, 01 November 2010

Antara Penuntut Ilmu dan Pecandu Internet

Seorang penuntut ilmu, pertama sekali dia memperhatikan perbaikan dirinya sendiri dan senantiasa bersikap lurus, karena dia adalah teladan, baik dalam akhlaqnya maupun sikapnya.

Seorang penuntut ilmu, sangat bersemangat untuk meraih suatu kemanfaatan, bermajelis dengan para pemilik ilmu, pemilik keutamaan dan sifat wara’.

Seorang penuntut ilmu, senantiasa membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat, menjaga waktunya (dari hal-hal yang tidak berguna), hingga engkau tidak melihatnya kecuali selalu mengambil manfaat, berpaling dari perkara yang sia-sia dan menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat saja.

Seorang penuntut ilmu, apabila dia berbicara maka dia memberi manfaat dengan perkataannya, jika dia menulis maka dia memberi manfaat dengan tulisannya, hingga orang yang bermajelis dengannya tidak akan pernah kosong dari suatu manfaat.

Seorang penuntut ilmu, menghargai kemulian ilmu dan kedudukan ulama, dia mengambil ilmu dari para ulama, menhormati dan mendoakan mereka serta memohon rahmat untuk (ulama) yang sudah meninggal.

Seorang penuntut ilmu, membenci ghibah dan membenci orang yang suka berghibah, dia juga tidak ridho apabila aib seseorang dibicarakan di depannya. Engkau lihat seorang penuntut ilmu itu bersikap tawadhu’, tidak mengangkat dirinya melebihi kedudukannya yang sebenarnya, tidak berbangga dengan sesuatu yang tidak dia miliki, tidak tertipu dengan pujian dan sanjungan, tidak meninginkan ketenaran, tidak pula kedudukan di tengah-tengah manusia, karena dia tahu bahwa yang mampu mengangkat dan merendahkan seseorang hanyalah Allah Ta’ala, bukan seorang manusia.

Seorang penuntut ilmu, senantiasa berdakwah dan mensihati kaum muslimin, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar sesuai dengan kaidah-kaidah syari’ah dan tatanan masyarakat. Engkau lihat seorang penuntut ilmu itu sangat bersemangat dalam menyatukan ummat, merekatkan hati-hati mereka dan membenci perpecahan antara Ahlus Sunnah, karena dia mengetahui bahwa perpecahan itu selalu bersama kebid’ahan dan persatuan selalu menyertai sunnah. Oleh karenanya dikatakan, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah (persatuan)” dan “Ahlus Bid’ah wal Furqoh (perpecahan)”.

Demikian pula engkau lihat seorang penuntut ilmu selalu menjaga lisannya, dia tidak mengomentari semua gosip dan isu yang tersebar di masyarakat, karena dia tahu bahwa semua perkataan dan perbuatannya akan dihisab.

Seorang penuntut ilmu, memperhatikan maslahat pada setiap perkataan dan perbuatannya, dia tidak membuka pintu (mencontohkan) keburukan bagi manusia, tidak membicarakan perkara yang batil, tidak sibuk dengan permasalahan yang tidak dipahaminya, dia tidak masuk dalam suatu pembicaraan kecuali berdasar ilmu, sehingga dia tahu penyebab masalah yang ada dan apa solusinya. Benar-benar dia telah menyiapkan jawaban di hadapan Allah Ta’ala kelak (atas semua perkataan dan perbuatannya).

Inilah sebagian sifat penuntut ilmu, semoga Allah Ta’ala menganugarahkan sifat-sifat tersebut kepada kita.

Adapun pecandu internet, keadaannya terbalik, sebagaimana telah dimaklumi dan disaksikan.

Pecandu internet akhlaqnya rendah, suka melanggar kehormatan, menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat, menyerang siapa saja tanpa memperdulikan kemuliaan ilmu, umur, kehormatan dan keutamaan. Dia juga berlagak ‘alim, mencari-cari kekurangan dan kesalahan orang lain, semua itu adalah buah dari mencandu internet secara berlebihan. Hari dan tahun yang dia lalui kosong tak berarti, hingga akhirnya dia tidak bisa tenang dan tidak membiarkan orang lain tenang.

Maka, jika engkau ingin menjadi penuntut ilmu, jalannya ada di depanmu dan telah jelas bagimu tanda-tandanya. Namun jika kamu memilih jadi pecandu internet, jalannya juga ada di depanmu, yang dipenuhi dengan kotoran dan najis, maka kotorilah dirimu sesuai kehendakmu, akan tetapi janganlah engkau membohongi manusia, sehingga engkau disangka seorang penuntut ilmu!

Diterjemahkan dari website resmi Asy-Syaikh Abu Malik Abdul Hamid Al-Juhani hafizhahullah, Imam dan Khotib Masjid Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu di Yanbu’ Al-Bahr, juga Da’i di Kementrian Wakaf, Dakwah dan Bimbingan KSA, dari artikel yang berjudul:

الفرق بين طالب العلم , وطالب الأنترنت

[1] Nasihat ini beliau tulis sebagai nasihat kepada para penuntut ilmu yang berdakwah via internet, sekaligus sebagai celaan terhadap orang-orang yang suka menyebar kerusakan di internet, mengoyak persatuan Ahlus Sunnah dan membuat lari kaum muslimin dari dakwah yang penuh berkah ini

Dinukil dari: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/01/antara-penuntut-ilmu-dan-pecandu-internet/